Uncategorized

Design Sprint—Metode Kekinian untuk Para Development

Ingin membuat produk atau jasa usaha baru? Atau gelisah dengan banyaknya competitor? Tapi bingung bagaimana memulai dan menanganinya? Kita tidak perlu khawatir lagi. Kini sudah ada Design Sprint—metode baru untuk merancang dan mengatasi permasalahan mengenai jasa dan produk usaha.

Metode Baru dan Efisien

Design Sprint adalah metode untuk menemukan permasalahan dan tujuan, membuat rancangan dan prototype serta validasi mengenai suatu produk atau jasa selama lima hari. Itu lah mengapa dinamakan Sprint—di mana huruf ‘S’ dalam ‘Sprint’ bermakna ‘speed’ atau cepat.

Design Sprint diperkenalkan oleh Jake Knapp dari Google Ventures tahun 2017, tujuannya untuk mempercepat validasi suatu ide. Sampai sekarang, metode ini telah digunakan oleh beberapa perusahaan terkenal di dunia baik perusahaan teknologi maupun nonteknologi, seperti #slack, Blue Bottle Coffee, Flatiron, Spotify dan masih banyak lagi.

Lalu kapan design sprint cocok dilakukan? Metode ini cocok dilakukan apabila: pertama, sumber dayanya terbatas—baik uang, waktu maupun tenaga kerja. Kedua, jika produk atau jasa usaha memiliki permasalahan yang sangat besar. Ketiga, jika mengalami kebingungan ketika ingin mengeksekusi sebuah ide pada prodak atau jasa usaha baru.

Persiapan Sebelum Sprint

Design Sprint memerlukan beberapa persiapan sebelum melakukannya. Tanpa persiapan ini, kemungkinan tahapan dalam design sprint tidak akan maksimal. Sehingga akan membuat hasil dari design spint tidak maksimal pula.

Pertama, persiapkan permasalahan dari produk atau jasa usaha. Tanpa adanya permasalahan, design sprint tidak akan berlangsung. Usahakan permasalahan yang ada sangatlah krusial, sehingga dapat lebih fokus untuk menyelesaikannya.

Kedua, tim. Dalam melaksanakan metode ini diperlukan 4-7 orang yang memiliki tugas berbeda-beda. Satu orang sebagai dicider (pembuat keputusan)—umumnya CEO, Product Manager atau Leader. Satu orang sebagai fasilitator yang bertugas mengatur jalannya diskusi dalam design sprint. Dan, sisanya adalah anggota tim—yang biasanya berasal dari perwakilan masing-masing divisi.

Ketiga, waktu. Design Sprint usahakan dilakukan pada Senin-Jumat pukul 10.00-17.00 WIB. Tidak disarankan untuk melakukannya pada hari weekend karena akan memotong kontinuitas dan menghilangkan moment. Tidak juga dilakukan lebih dari tujuh jam, karena konsentrasi dari tim sudah hilang dan lelah.

Keempat, no device rule. Karena sprint membutuhkan focus yang ekstra, maka setiap anggota tim dilarang membawa perangkat. Terkecuali, perangkat yang digunakan untuk menunjang jalannya design sprint.

Kelima, ruang diskusi yang minim dengan adanya ganguan. Di mana ruangan tersebut akan digunakan selama seminggu penuh untuk kegiatan design sprint. Selain itu, ruangan tersebut harus ada whiteboard, spidol dan dinding. Hal ini untuk menulis dan menempelkan ide-ide yang ada.

Keenam, lain-lain, yaitu: kertas dan bolpoin untuk mencatat. Sticky note, dot sticky note untuk mencatatat-memilah-memilih ide. Timer, untuk menjaga durasi diskusi. Terakhir adalah makanan dan minuman ringan yang sehat tapi tidak membuat mengantuk.

Setelah persiapan di atas dirasa sudah terpenuhi. Proses selanjutnya adalah tahapan dalam design sprint. Di mana tahapan ini dilakukan di hari pertama, yaitu Senin. Dan diakhiri di hari kelima atau hari Jumat.

Senin—Mengidentifikasi Permasalahan dan Menentukan Tujuan

Sebelum melakukan diskusi, fasilitator akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai garis besar yang akan dilakukan selama seminggu dan progres apa yang harus didapatkan dalam satu hari. Kemudian, hal pertama adalah memaparkan permasalahan. Jika permasalahan dianggap belum begitu besar, maka harus mencari permasalahan yang lebih besar dan krusial. Kedua, menentukan tujuan jangka panjang, untuk apa sih menyelesaikan permasalahan ini dan apakah akan bisa bermanfaat untuk ke depannya.

Hal ketiga adalah, menyusun pertanyaan sprint dari tujuan jangka panjang yang telah ditentukan. Keempat adalah membuat peta sprint. Peta ini digunakan untuk menggambarkan jalannya user (pengguna/konsumen) berinteraksi dengan produk atau jasa usaha. Dari pertanyaan dan peta sprint, akan didatangkan tenaga ahli yang lebih mengetahui jalannya peta sprint dan dapat menjawab pertanyaan sprint. Tenaga ahli akan memberikan masukkan-masukkan yang dapat membantu mewujudkan target jangka panjang terealisasikan. Setelah itu, tim akan berdiskusi mengenai apa yang telah tenaga ahli berikan, dan membuat target yang lebih mendetail.

Selasa—Memunculkan Ide-ide

Pada hari selasa, tim akan menuangkan ide-ide untuk mengatasi permasalahan dan mewujudkan target detail jangka panjang. Ide-ide tersebut ditulis di sticky note dan ditempel pada dinding. Di tahapan ini setiap orang dalam tim memaparkan apa dan bagaimana idenya. Serta memungkinkan adanya Tanya jawab, kritikan dan tanggapan dari anggota lainnya.

Di hari ini pula, tim mulai memikirkan mekanisme validasi dan siapa saja yang menjadi penguji. Perlu diingat, penguji tidak boleh sembarangan orang. Melainkan orang yang mengetahui produk atau jasa itu, atau pengguna kompetitor. Hal ini agar nantinya, tim mendapatkan masukan dari penguji apakah ide tersebut dapat direalisasikan atau perlu dikaji ulang.

Rabu—Ide utama – Sketsa – Storyboard

Ide-ide yang sudah ada di hari Selasa kemudian dipilah. Jika ide-ide tersebut bermaksud sama dan diutarakan dari orang yang berbeda, maka ide itu menjadi prioritas ide dan akan dibuat sketsanya. Di sore hari, tim akan membuat storyboard. Hal ini dilakukan untuk mempermudah membuat prototype di hari berikutnya.

Kamis—Realistis Prototype

Di hari kamis, tim akan fokus membuat prototype. Tidak perlu menghasilkan prototype yang sempurna. Terpenting adalah realistis di mana fungsi fitur prototype berjalan dengan baik dan user dapat mengujinya dengan mudah. Selain itu, tim juga akan membuat interview guide, memastikan jadwal masing-masing penguji serta pemeriksaan akhir prototype.

Jumat—Validasi Ide

Validasi dilakukan pada hari Jumat. Di mana prototype akan diuji oleh user yang telah dihubungi. Tim akan mengamati bagaimana reaksi user serta melakukan wawancara berdasarkan interview guide yang telah dibuat. Di tahapan ini lah yang menentukan ide benar-benar sudah dapat diimplementasikan atau perlu adanya pengkajian ulang.

Jika ide sudah dianggap baik, maka akan masuk ke divisi development baik divisi pemograman (jika ide memerlukan sistem pemograman) atau divisi desain (jika memerlukan perubahan desain). Jika ide perlu dikaji ulang, maka akan kembali ke tahapan awal.

Nah itu lah tahapan dalam metode design sprint. Memang metode ini sepertinya memakan fokus yang lebih ekstra. Namun, metode ini akan mempersingkat waktu dalam pembangunan atau pembuatan suatu produk atau jasa usaha.

Artikel merupakan ringkasan materi dalam “Workshop Desain – UI/UX Overview: Memecahkan Masalah Desain dan Bisnis Dengan Design Sprint” pada 14 Februari 2020 di DILO Solo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *